BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Syekh Abdul Qadir al-Jaylani merupakan tokoh sufi paling masyhur di Indonesia.
Peringatan Haul waliyullah ini pun selalu dirayakan setiap tahun oleh umat
Islam Indonesia. Tokoh yang diyakini sebagai cikal bakal berdirinya Tarekat
Qadiriyah ini lebih dikenal masyarakat lewat cerita-cerita karamahnya
dibandingkan ajaran spiritualnya.Terlepas dari pro dan kontra atas kebenaran
karamahnya, Biografi (manaqib) tentangnya sering dibacakan dalam majelis yang
dikenal di masyarakat dengan sebutan manaqiban. Nama lengkapnya adalah Abdul
Qadir ibn Abi Shalih Abdullah Janki Dusat al-Jaylani. Al-Jaylani merupakan
penisbatan pada Jil, daerah di belakang Tabaristan. Di tempat itulah ia
dilahirkan. Selain Jil, tempat ini disebut juga dengan Jaylan dan Kilan.Maka
didalam makalah ini akan membahaskan tenatang manaqib.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah tersebut, maka timbul permasalahan yang dapat
dikemukakan yaitu :
1. Mengapa Syaikh ‘Abdul Qadir muncul sebagai tokoh penting dalam sejarah Islam
dan menyebabkan sejumlah besar Manaqib (hagiografi) genre?
2. Paradigma apa yang digunakan untuk menulis karya-karya Syeh Abdulqodir
jailani ?
3. Bagaimana kita dapat tempat dan mengukur historisitas dan signifikansi dalam
sejarah Islam?
C. Tujuan Penulisan
Seiring dengan permasalahan-permasalahan diatas maka tujuan dalam penulisan
makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui hukum manaqib menurut kaca mata islam.
D. Metode Penulisan
1. Metode Deduktif
Yaitu dengan meneliti persoalan manaqib yang terjadi dimasyarakat dan kemudian
dibandingkan dengan konsep hukum yang berlaku dalam syari’at islam.
2. Metode Komparatif
Yaitu dengan cara mengemukakan kontraversi berbagai pendapat para tokoh
mengenai manaqib, dan merumuskannya dalam satu kesimpulan dengan cara melakukan
analisis logis teoritif
3. Dealektis
Yaitu dengan cara mengqiyaskan rumusan masalah dengan dalil-dalil yang sudah
ada.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pandangan Islam Tentang Manaqib
Banyak kita jumpai orang yang sangat mengagung-agungkan “ibadah” bacaan manaqib
bahkan melebihi ibadah sunnah. Mereka berkeyakinan agar “wasilahnya” cepat
sampai dan terkabul. Misalnya, membuat ayam ungkep utuh (ingkung-Jawa), yang
dimasak oleh wanita suci dari hadast, lalu yang boleh menyembelih harus orang
sudah berijazah dari gurunya (telah mengkhatamkan bacaan manaqib sebanyak 40
kali). Di saat pembacaan manaqib, sudah menjadi keyakinan bagi para jamaahnya
untuk membawa botol berisi air yang diletakkan di depan Imam atau gurunya,
konon air tersebut dipercaya membawa berbagai macam berkah. Khasiat lainnya
yakni apabila seseorang mempunyai keinginan tertentu (usaha dan rejeki lancar,
pandai, atau nadhar lainnya), mereka membaca bersama-sama pada hari yang
ditentukan, misalnya tiap Rabu Kliwon, Pon, bahkan ada yang disertai dengan
pembakaran kemenyan atau parfum wewangian agar ruh sang tokoh hadir ikut
mendoakannya, karena “konon” ada pendapat bahwa Syaikh Abdul Qodir Jaelani
pernah berkata, “Dimana saja dibacakan manaqib-ku aku hadir padanya”[1]
Para pelaku manaqib tersebut berkeyakinan, bahwa bacaan itu adalah suatu amalan
agung yang di ajakan guru-gurunya meskipun tidak jelas sumber asalnya. Namun
jika kita kaji lebih dalam, kata manaqib berasal dari “manqobah” berarti kisah
tentang kesolehan, dan amal seseorang. Jadi membaca manaqib, sama saja dengan
membaca biografi atau cerita kebaikan seseorang Namun sayang, manaqib disini
banyak mengisahkan cerita-cerita bohong, dan tidak masuk akal. Ironisnya lagi,
dengan dalih sebagai bukti kecintaannya kepada waliyullah, mereka selalu
membaca, mengingat, bahkan memanggil dan memohon roh wali yang sudah mati
(Abdul Qodir Jailani-red) untuk perantara. Jika sudah seperti ini yang di dapat
adalah…..kesyirikan. Karena menghadirkan roh orang yang sudah mati adalah
mustahil, yang datang adalah jin yang berubah rupa atas bantuan tukang sihir
bangsa jin. Sedangkan berbagai cara dan persyaratan ritual manaqib sangat mirip
sekali dengan cara-cara zaman jahiliyah dan budaya orang-orang musyrik dalam
berinteraksi dengan para dewanya (bangsa jin). Bedanya sekarang mereka
beralasan tidak menyembah roh tapi sebagai bentuk taqarruban (mendekatkan diri)
dan wasilah (perantara) kepada Allah. Padahal Allah sendiri telah
memperingatkan dengan keras dan tegas dalam firman-Nya:
“Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalaupun mereka
mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan pada hari kiamat
mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberi
keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.” (QS.
Faathir: 14)[2]
Bahwa membaca manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jilani adalah haram, didasarkan pada
aqidah wahabi dan segolongannya, yang anti terhadap berbagai bentuk ritual
Islam yang tidak ada tuntunannya di dalam al-Qur'an maupun as-Sunnah. Mereka
beranggapan bahwa, segala bentuk ritual agama yang tidak ada tuntunannya adalah
bid'ah. Dan mereka berpendapat bahwa "kullu bid'atin dlalalah"
(setiap bid'ah atau perilaku baru yang tidak ada tuntunannya secara tekstual di
dalam nash adalah bid'ah).[3]
ا يا كم ومحد ثا ت الا مور فا ن كل بد عة ضلا لة (رواه ابو داود والرمذي)
Hindarilah amalan yang tidak Kucontohkan (bid’ah), karena tiap bid’ah
menyesatkan”, (HR. Abu Daud dan Tirmizi)
Jadi tidak seluruh bid’ah itu adalah sesat karena ada juga bid’ah hasanah,
sebagaimana komentar imam Syafi’I Ra :
المحد ثا ت ضربان ما احد ث يخالف كتا با او سنة او اثرا اوجما عا فهذه بد عة الضلا
ل وما احد ث من الخير لا يخا لف شيأ من ذالك فهي محد ثة غير مذ مومة
“Sesuatu yang diada-adakan (dalam agama) ada dua macam : sesuatu yang
diada-adakan (dalam agama) yang bertentang dengan Al-Qur’an, Sunnah Nabi SAW,
perilaku sahabat , atau kesepakatan ulama, maka termasuk bid’ah yang sesat:
adapun yang diada-adakan adalah sesuatu yang baik dan tidak menyalahi ketentuan
(Al-Qur’an, Hadits, prilaku Sahabat atau Ijma) maka sesuatu itu tidak tercela
(baik) ”. (Fat al-Bari, Juz XVII: 10)[4]
Adapun menurut tuntunan kaum salaf, dalam aqidah ahlussunnah wal jamaah,
membaca Manaqib para wali, itu baik (mustahab), karena dapat mendatangkan
kecintaan terhadap para wali dan untuk bertawassul kepada para wali Allah.
Adapun memberi makananitu hukumnya sunah, kalau dengan maksud untuk memberikan
shadaqah dan bertujuan untuk memulyakan tamu. Dalam hadist dinyatakan, yang
artinya, “Siapa yang beriman kepada Allah, supaya menghormati tamunya”.
B. Sejarang Syeh Abdul Qodir Jailani
a. Kelahiran
Sayidi Abdul Qadir Jailani adalah seorang ulama terkenal. Beliau bukan hanya
terkenal di sekitar tempat tinggalnya, Baghdad, Irak. Tetapi hampir seluruh
umat Islam di seluruh dunia mengenalnya. Hal itu dikarenakan kesalihan dan
keilmuannya yang tinggi dalam bidang keislaman, terutama dalam bidang tasawuf.
Nama sebenarnya adalah Abdul Qadir. Ia juga dikenal dengan berbagai gelar
seperti; Muhyiddin, al Ghauts al Adham, Sultan al Auliya, dan sebagainya.
Sayidi Abdul Qadir Jailani adalah ahli bait keturunan Rasulullah SAW. Ibunya
yang bernama Ummul Khair Fatimah, adalah keturunan Mawlana al-Imam Husain, cucu
Nabi Muhammad Saw. Jadi, silsilah keluarga Syaikh Abdul Qadir Jailani jika
diurutkan ke atas, maka akan sampai ke Khalifah Imam ‘Ali bin Abi Thalib.
Sayidi Abdul Qadir Jailani dilahirkan pada tahun 1077 M / 469 H. Pada saat
melahirkannya, ibunya sudah berusia 60 tahun. Ia dilahirkan di sebuah tempat
yang bernama Jailan. Karena itulah di belakang namanya terdapat julukan
Jailani. Penduduk Arab dan sekitarnya memang terbiasa menambahkan nama mereka
dengan nama tempat tinggalnya.[5]
b. Belajar di Baghdad
Selama belajar di Baghdad, karena sedemikian jujur dan murah hati, ia terpaksa
mesti tabah menderita. Berkat bakat dan kesalehannya, ia cepat menguasai semua
ilmu pada masa itu. Ia membuktikan diri sebagai ahli hukum terbesar di masanya.
Tetapi, kerinduan ruhaniahnya yang lebih dalam gelisah ingin mewujudkan diri.
Bahkan di masa mudanya, kala tenggelam dalam belajar, ia gemar musyahadah).
Ia sering berpuasa, dan tak mau meminta makanan dari seseorang, meski harus
pergi berhari-hari tanpa makanan. Di Baghdad, ia sering menjumpai orang-orang
yang berfikir serba ruhani, dan berintim dengan mereka. Dalam masa pencarian
inilah, ia bertemu dengan Hadhrat Hammad, seorang penjual sirup, yang merupakan
wali besar pada zamannya. [6]
Lambat laun wali ini menjadi pembimbing ruhani Abdul Qadir. Hadhrat Hammad
adalah seorang wali yang keras, karenanya diperlakukannya sedemikian keras sufi
yang sedang tumbuh ini. Namun calon ghauts ini menerima semua ini sebagai
koreksi bagi kecacatan ruhaninya.
c. Latihan-Latihan Ruhaniah
Setelah menyelesaikan studinya, ia kian keras terhadap diri. Ia mulai
mematangkan diri dari semua kebutuhan dan kesenangan hidup. Waktu dan tenaganya
tercurah pada shalat dan membaca Qur'an suci. Shalat sedemikian menyita
waktunya, sehingga sering ia shalat shubuh tanpa berwudhu lagi, karena belum
batal.
Diriwayatkan pula, beliau kerapkali khatam membaca Al-Qur'an dalam satu malam.
Selama latihan ruhaniah ini, dihindarinya berhubungan dengan manusia, sehingga
ia tak bertemu atau berbicara dengan seorang pun. Bila ingin berjalan-jalan, ia
berkeliling padang pasir. Akhirnya ia tinggalkan Baghdad, dan menetap di
Syustar, dua belas hari perjalanan dari Baghdad. Selama sebelas tahun, ia
menutup diri dari dunia. Akhir masa ini menandai berakhirnya latihannya. Ia
menerima nur yang dicarinya. Diri-hewaninya kini telah digantikan oleh wujud
mulianya.
Suatu peristiwa terjadi pada malam babak baru ini, yang diriwayatkan dalam
bentuk sebuah kisah. Kisah-kisah serupa dinisbahkan kepada semua tokoh
keagamaan yang dikenal di dalam sejarah; yakni sebuah kisah tentang penggodaan.
Semua kisah semacam itu memaparkan secara perlambang, suatu peristiwa alamiah
dalam kehidupan.
Misal, tentang bagaimana nabi Isa as digoda oleh Iblis, yang membawanya ke
puncak bukit dan dari sana memperlihatkan kepadanya kerajaan-kerajaan duniawi,
dan dimintanya nabi Isa a.s., menyembahnya, bila ingin menjadi raja dari
kerajaan-kerajaan itu. Kita tahu jawaban beliau, sebagai pemimpin ruhaniah.
Yang kita tahu, hal itu merupakan suatu peristiwa perjuangan jiwa sang pemimpin
dalam hidupnya.[7]
Demikian pula yang terjadi pada diri Rasulullah saw. Kala beliau kukuh
berdakwah menentang praktek-praktek keberhalaan masyarakat dan musuh-musuh
beliau, para pemimpin Quraisy merayunya dengan kecantikan, harta dan tahta. Dan
tak seorang Muslim pun bisa melupakan jawaban beliau: "Aku sama sekali tak
menginginkan harta ataupun tahta. Aku telah diutus oleh Allah sebagai seorang
Nadzir) bagi umat manusia, menyampaikan risalah-Nya kepada kalian. Jika kalian
menerimanya, maka kalian akan bahagia di dunia ini dan di akhirat kelak. Dan
jika kalian menolak, tentu Allah akan menentukan antara kalian dan aku."
Begitulah gambaran dari hal ini, dan merupakan fakta kuat kemaujudan duniawi.
Berkenaan dengan hal ini, ada dua versi kisah tentang Syaikh Abdul Qadir
Jailani. Versi pertama mengisahkan, bahwa suatu hari Iblis menghadapnya,
memperkenalkan diri sebagai Jibril, dan berkata bahwa ia membawa Buraq dari
Allah, yang mengundangnya untuk menghadap-Nya di langit tertinggi.[8]
Sang Syaikh segera menjawab bahwa si pembicara tak lain adalah si Iblis, karena
baik Jibril maupun Buraq takkan datang ke dunia bagi selain Nabi Suci Muhammad
saw. Setan toh masih punya cara lain, katanya: "Baiklah Abdul Qadir,
engkau telah menyelamatkan diri dengan keluasan ilmumu." "Enyahlah!,
bentak sang wali." Jangan kau goda aku, bukan karena ilmuku, tapi karena
rahmat Allahlah aku selamat dari perangkapmu".
Versi kedua mengisahkan, ketika sang Syaikh sedang berada di rimba belantara,
tanpa makanan dan minuman, untuk waktu yang lama, awan menggumpal di angkasa,
dan turunlah hujan. Sang Syaikh meredakan dahaganya. Muncullah sosok terang di
cakrawala dan berseru: "Akulah Tuhanmu, kini Kuhalalkan bagimu segala yang
haram." Sang Syaikh berucap: "Aku berlindung kepada Allah dari godaan
setan yang terkutuk." Sosok itu pun segera pergi berubah menjadi awan, dan
terdengar berkata: "Dengan ilmumu dan rahmat Allah, engkau selamat dari
tipuanku."
Lalu setan bertanya tentang kesigapan sang Syaikh dalam mengenalinya. Sang
Syaikh menyahut bahwa pernyataannya menghalalkan segala yang haramlah yang
membuatnya tahu, sebab pernyataan semacam itu tentu bukan dari Allah. Kedua
versi ini benar, yang menyajikan dua peristiwa berlainan secara perlambang.
Satu peristiwa dikaitkan dengan perjuangannya melawan kebanggaan akan ilmu.
Yang lain dikaitkan dengan perjuangannya melawan kesulitan-kesulitan ekonomi,
yang menghalangi seseorang dalam perjalanan ruhaniahnya. Kesadaran aka kekuatan
dan kecemasan akan kesenangan merupakan kelemahan terakhir yang mesti enyah
dari benak seorang salih. Dan setelah berhasil mengatasi dua musuh abadi ruhani
inilah, maka orang layak menjadi pemimpin sejati manusia.[9]
Syaikh Abdul Qadir memiliki 49 orang anak, 27 di antaranya adalah laki-laki.
Beliaulah yang mendirikan tariqat al-Qadiriyah. Di antara tulisan beliau antara
lain kitab
o Al-Fathu Ar-Rabbani,
o Al-Ghunyah li Thalibi Thariq Al-Haq dan
o Futuh Al-Ghaib.
Beliau wafat pada tanggal 10 Rabi'ul Akhir tahun 561 H bertepatan dengan 1166 M
pada saat usia beliau 90 tahun.[20]
C. Biografi Syekh Abdul Kodir Jaelani
SyekhAbdul Qadir Jaelani
Sheikh, Ghaus-e-Azam
|
Tempat ziarah Abdul
Qadir Jailani (Baghdad, Irak).
|
Lahir
|
Abdul Qadir
|
Meninggal
|
|
Sebab meninggal
|
tertular beberapa penyakit.
|
Tempat peristirahatan
|
|
Nama lain
|
Syekh, Ghaus-e-Azam
|
Agama
|
|
Anak
|
Shaikh Abdul-Wahab, Sheikh Abdul-Razzaq, Shaikh
Abdul-Aziz, Shaikh Isa, Shaikh Musa, Sheikh Yahya, Sheikh Abdullah, Sheikh Muhammed
dan 41 lainnya. Sheikh Ibrahim.
|
Orang tua
|
|
Abdul
Qadir Jaelaniatau
Abd al-Qadir al-Gilani[1][2] (bahasa Kurdi: Evdilqadirê Geylanî, , bahasa Urdu: عبد القادر آملی گیلانی Abdolqāder Gilāni) (470–561 H) (1077–1166 M) adalah seorang ulama fiqih yang sangat dihormati oleh Sunni dan dianggap wali dalam dunia tarekat dan sufisme. Ia lahir pada hari Rabu tanggal 1
Ramadan di 470 H, 1077 M[3] selatan Laut Kaspia yang sekarang menjadi Provinsi
Mazandaran di Iran. Ia wafat pada hari Sabtu malam, setelah magrib, pada tanggal 9 Rabiul akhir di daerah Babul Azajwafat di Baghdad pada 561 H/1166 M.
Ia adalah orang Kurdi[4] atau orang Persia.[5] Syekh Abdul Qadir dianggap wali dan
diadakan di penghormatan besar oleh kaum Muslim dari anak benua India.[6] Di antara pengikut di Pakistan dan
India, ia juga dikenal sebagai Ghaus-e-Azam.
Nama Abdul Qadir Jaelani juga
dilafalkan Abdulqadir Gaylani, Abdelkader, Abdul Qadir, Abdul Khadir - Jilani,
Jeelani, Gailani, Gillani, Gilani, Al Gilani, Keilany.
Masa
Muda
- Dalam
usia 8 tahun ia sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095
M. Karena tidak diterima belajar di Madrasah Nizhamiyah Baghdad, yang
waktu itu dipimpin Ahmad al
Ghazali,
yang menggantikan saudaranya Abu Hamid al Ghazali. Di Baghdad beliau belajar kepada beberapa
orang ulama
seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthat, Abul Husein al Farra' dan juga Abu Sa'ad al Muharrimiseim. Beliau menimba ilmu pada ulama-ulama tersebut
hingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga
perbedaan-perbedaan pendapat para ulama. Dengan kemampuan itu, Abu Sa'ad
al Mukharrimi yang membangun sekolah kecil-kecilan di daerah Babul Azaj
menyerahkan pengelolaan sekolah itu sepenuhnya kepada Syeikh Abdul Qadir
al Jailani. Ia mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim di
sana sambil memberikan nasihat kepada orang-orang di sekitar sekolah
tersebut. Banyak orang yang bertaubat setelah mendengar nasihat beliau.
Banyak pula orang yang bersimpati kepada beliau, lalu datang menimba ilmu
di sekolah beliau hingga sekolah itu tidak mampu menampung lagi.
Murid
Murid-muridnya banyak yang
menjadi ulama terkenal, seperti al Hafidz Abdul Ghani yang menyusun kitab Umdatul
Ahkam Fi Kalami Khairil Anam, Syeikh Qudamah, penyusun kitab fiqih terkenal al
Mughni.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bahwa membaca manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jilani adalah haram, didasarkan pada
aqidah wahabi dan segolongannya, yang anti terhadap berbagai bentuk ritual
Islam yang tidak ada tuntunannya di dalam al-Qur'an maupun as-Sunnah. Mereka
beranggapan bahwa, segala bentuk ritual agama yang tidak ada tuntunannya adalah
bid'ah. Dan mereka berpendapat bahwa "kullu bid'atin dlalalah"
(setiap bid'ah atau perilaku baru yang tidak ada tuntunannya secara tekstual di
dalam nash adalah bid'ah).
Adapun menurut tuntunan kaum salaf, dalam aqidah ahlussunnah wal jamaah,
membaca Manaqib para wali, itu baik (mustahab), karena dapat mendatangkan
kecintaan terhadap para wali dan untuk bertawassul kepada para wali Allah.
Adapun memberi makananitu hukumnya sunah, kalau dengan maksud untuk memberikan
shadaqah dan bertujuan untuk memulyakan tamu. Dalam hadist dinyatakan, yang
artinya, “Siapa yang beriman kepada Allah, supaya menghormati tamunya”.
Jelas bahwa tema dan objek dari karya-karya yang Manaqib membayar perhatian
besar terhadap keunggulan dan kebajikan dari tokoh-seperti tindakan-Nya yang
ajaib (khawariq)-adalah karakteristik, dan ini salah satu dari berbagai model
dalam historiografi Islam, bahkan dalam ayat Al-Quran dan hadis Nabi.
Supranatural fenomena (khawariq al-’adat) dapat dianggap sebagai fenomena
historis sejauh realitas mereka bisa disaksikan dan dirasakan oleh sejumlah
orang, maintly mereka yang tinggal di sekitar gambar. Adapun metodologi,
digunakan sistem dengan pemancar yang paling bertanggung jawab. Selain itu, metode
dan sumber-sumber pengetahuan sufistic di alam dalam bahwa karya Manaqib
ditulis pada basis Karamah (bangsawan), BARAKAH (berkah), kasyf (wahyu), ru’yah
sadiqah (mimpi yang benar) dan mushahadah ( witnes).